Branding online
3 Tips Branding Online Sukses Oleh Verisign
July 16, 2015
Backlink SEO
Tingkatkan Rank Dengan Membuat Backlink Gratis Disini
July 17, 2015

Kisah Mahasiswa Katolik ‘Nyantri’ di Pesantren

illustrasi mengaji

illustrasi mengaji

Hai OMK – Bulan puasa dimanfaatkan mahasiswa non-muslim untuk mengerti dan mengenal agama Islam. Sembilan mahasiswa non-muslim ini menginap selama dua malam di Pesantren Sabilurrosyad, Malang. Dialog lintas iman ini awalnya merupakan program pengembangan karakter Universitas Ma Chung bernama OBOR (Orientation Based On Reflection).

“Program ini agar memahami dan membangun kerukunan antar-umat beragama,” kata Yofranny Winardi salah satu mahasiswa Katolik. Sore hari usai salat Asar, dia meriung di masjid pesantren. Dia duduk bersila berbaur dengan santri lainnya mendengarkan pengajian rutin yang diasuh salah satu kiai.

Mereka menyimak dengan seksama meski kurang memahami bahasa Jawa yang menjadi pengantar kiai dalam pengajian. “Pak Kiai soalnya memakai bahasa Jawa untuk menerjemahkan kitab berbahasa Arab, sehingga kami hanya bisa lihat-lihat karena tidak begitu paham,” kata Yofranny. Meski tak mengerti kitab berbahasa Arab, para mahasiswa mulai memahami ajaran islam yang diinformasikan oleh santri-santri.

Pengajian dilakukan sampai waktu berbuka puasa dan ditutup dengan salat Magrib berjemaah. Mereka ikut makan bersama, nasi dan lauk ditempatkan dalam satu wadah untuk empat sampai lima santri.

Dua hari lamanya mereka menginap dan mengikuti aktivitas santri. Ini bertepatan saat bulan puasa dan mereka ikut mengaji, sahur, juga berbuka puasa bersama para santri. Ia mengaku tertarik live in di dalam pesantren untuk lebih mengenal agama Islam.

Sebagai penganut agama Katolik, ia ingin mengetahui agama lain untuk membangun toleransi dan menumbuhkan sikap saling menghargai antar-umat beragama. Belajar bersama santri dengan penuh kesederhanaan dan terbangun kebersamaan, tidur beralas karpet, dan satu ruangan diisi delapan orang.

Selanjutnya, membedakan Islam dan terorisme

Yofranny paling terkesan dengan kebersamaan dan persaudaraan antar santri. Selama ini ia kerap bertanya-tanya kenapa ada umat Islam yang ekstrem, yakni berbuat kekerasan, bermusuhan dengan umat lain, bahkan terlibat aksi terorisme.

Setelah mengaji bersama, Yofranny memahami Islam tak mengajarkan kekerasan, tetapi cinta kasih dan saling menghormati. “Sebelumnya kami tidak tahu ada beragam kelompok dalam Islam. Setelah dijelaskan Pak Ustad jadi saya mengerti,” ujarnya.

Yofranny juga belajar mengenakan sarung, busana khas para santri selama di pesantren. Sarung tak hanya dikenakan saat salat atau mengaji namun sarung juga digunakan saat bersantai dan diskusi bersama para santri.

David Darissalam, salah satu santri yang mendampingi mahasiswa katolik selama di pesantren mengaku bangga mengenalkan tradisi dan kebiasan para santri kepada para mahasiswa.

Para mahasiswa non-muslim diajak mengenal serangkaian ibadah selama bulan puasa. Mulai dari bangun untuk makan sahur bersama, mengenalkan salat berjemah, salat tarawih dan bertadarus. “Tiap pagi kami juga ajak makan sahur. Kalau ternyata enggak kuat bangun, ya kami biarkan saja,” katanya.

Kebersaman mereka selama dua hari telah menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghormati antar umat beragama. Menghilangkan semua curiga, prasangka, dan pandangan negatif dengan agama lain. “Ternyata akhirnya semua kita memang punya keyakinan masing-masing, tetapi harus saling menghormati,” katanya.

OBOR rutin diselenggarakan setahun dua kali. Tahun kedua, kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi bekerja sama dengan Gusdurian Malang. Pendamping mahasiswa, Purnomo berharap setelah mengikuti program ini mahasiswa lebih peka terhadap isu toleransi, tidak mudah tersulut emosi, dan menjauhi rasa benci.

Usai tinggal bersama dengan keluarga yang berbeda agama, para peserta beragama Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan Hindu bertemu bersama. Mereka berdialog melibatkan para pemuka atau pemimpin masing-masing umat. “Toleransi kan saling menghormati. Tadi sudah dijelaskan Pak Ustad untuk toleransi itu dasarnya iman,” ujarnya.

Setelah kembali ke komunitas masing-masing, mereka tetap menjalin komunikasi untuk merawat keberagaman dan saling menjaga toleransi. Berpegang teguh dengan semboyan Bhineka Tunggal ika.

 


Sumber Tempo.co

 

Orang Muda Kreatif
Im “Orang Muda Kreatif” and Im Ancel.
Contact me with email st.ancel45@gmail.com
or with my IG: ancelmus
Share on Facebook26Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn1
It's only fair to share...
  • FX.Benny Setiawan

    Saya berdoa semoga mahasiswa yang bernama Yofranny tersebut tidak berpindah Iman Percaya nya. Secara pribadi, saya salut dan setuju progam berbagi ilmu agama, karena nantinya akan memperkaya nuansa kerohanian pribadi seseorang. Namun sebaiknya, saran saya, sebelum belajar ilmu agama, perkaya dahulu ilmu agama yang ada saat ini, bila pondasi dirasa sudah sangat kuat, niscaya apapun terapan ilmu agama apapun akan terlihat bijaksana.

  • Kodier

    Bagimu agamamu bagiku agamaku…