charles honoris glodok
Kelurahan Glodok Mengadakan Sosialisasi 4 Pilar bersama Charles Honoris
November 12, 2015
YTS
YTS is COMEBACK (YIFY)
December 10, 2015

Sejarah “Sandi” Masa Lampau

Masa lampau di tengah dentuman meriam masa revolusi pada awal tahun 1946, berlangsung kegiatan sandi yang hampir tak dikenal namanya dan apa yang dikerjakannya. Adalah sebuah usaha pengamanan berita/informasi milik Republik Indonesia, khususnya pada saluran komunikasi kegiatan itu dinamakan dengan Persandian.

Pada tanggal 4 April 1946, Menteri Pertahanan saat itu, Mr. Amir Syarufuddin memberikan tugas pada Letkol dr. Roebiono Kertopati seorang dokter kepresidenan RI pada masa presiden Soekarno. Tugasnya adalah untuk mendirikan sebuah Badan Persandian Republik Indonesia yang dapat mengelola persandian nasional.

Roebiono K

Roebiono sendiri tidak mengenal persandian sebelumnya, namun melalui bacaan, logika dan imajinasi nya akhirnya dapat dibuat sistem sandi sendiri. Dengan bantuan beberapa rekan dimulailah penyusunan. sampai pada akhirnya dibentuklah badan pemberitaaan rahasia yang disebut Dinas Code.

Operasional Dinas Code menggunakan suatu sistem yang sangat sederhana dalam bentuk Buku Kode yang dikenal “Buku Code C” (dibuat sebanyak 6 rangkap) memuat lebih dari 10 ribu kata Bahasa Indonesia, termasuk tanda baca, istilah, nama nama dan bentuk lain yang sering digunakan. Replika Buku Kode dapat dijumpai di Museum Sandi, Yogyakarta.

Diawali untuk hubungan komunikasi pemberitaan rahasia antara Pemerintah RI di Yogyakarta dengan para pimpinan nasional di Jawa Barat (Tasikmalaya, Garut, Karawang, Banten dan Cirebon), Jawa Timur (Jember, Jombang, Kediri dan Mojokerto), Jawa Tengah (Solo, Purwokerto, Tegal) dan Sumatera (Pematang Siantar dan Bukit Tinggi) dan Jakarta.

Adapun instansi Pemerintah RI selain Kementerian Pertahanan yang menggunakan jasa Dinas Code adalah Markas Besar Tentara (M.B.T), Tentara Rakyat Indonesi (T.R.I) Sumatera, Panitya Oeroesan Pengembalian Orang Djepang Dan Asing (P.O.P.D.A), Pantya Gentjatan Senjata, Divisi I, Gubernur Sumatera. Dinas Code juga bertugas melakukan pemantauan terhadap berita-berita dalam negeri dan luar negeri yang diperlukan oleh Kementerian Pertahanan Bagian B.

Selanjutnya Dinas Code diubah menjadi Bagian Code KP-V melalui SK. Menteri Pertahanan No. A/126/1947 tanggal 30 April 1947 yang mengadakan fusi Badan-Badan Intelijen pada Kementerian Pertahanan ke dalam satu wadah yang disebut Kementerian Pertahanan Bagian V.

Pada tahun 1946 jumlah personel Dinas Code sebanyak 19 orang dan setelah fusi kelembagaan menjadi 34 orang dimana tambahan tenaga berasal dari Badan Rahasia Negara Indonesia (B.R.A.N.I).

Pada periode 8 Desember 1947 – 17 Januari 1948 diadakanlah Perjanjian Renville dimana untuk memfasilitasi komunikasi rahasia antara Delegasi RI dengan Pemerintah Pusat, Yogyakarta, selama perundingan RI-Belanda ditugaskanlah 2 (dua) orang Code Officer (CDO)/Petugas Sandi yaitu Letnan II Marjono IS dan Letnan II Padmowirjono di Kapal USS Renville .

Sedangkan 2 (dua) orang CDO, Letnan II Oetoro Kolopaking dan Letnan II Parhadi Utomo, bekerja di darat di Gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan Timur no.56. Saat itu Sistem sandi yang digunakan ada 3 (tiga) jenis yaitu Buku C (Besar), Sistem Transposisi, dan One Time Pad (OTP).

RUMAH-SANDI

Adapun yang terdapat di dalam museum Sandi antara lain:

  1. Ruang Introduksi (audio visual) berisi pengantar ilmu tentang sandi dari masa mesir kuno hingga masa sekarang.
  2. Replika rumah tempat kamar sandi pertama di Indonesia
  3. Barang asli atau replika mesin/peralatan sandi, meubeler, tag, sepeda, patung/menekin, etalase (barang keseharian pelaku sejarah sandi), slide sistem, serta sistem-sistem sandi lainnya dan sebagainya.
  4. Dokumen berupa buku kode, lembaran kertas, dan sebagainya.
  5. Gambar-gambar berupa foto, peta (napak tilas sandi), lukisan (kegiatan sandi di dalam perundingan), dan sebagainya.
  6. Diorama berupa suasan di Pedukuhan Dukuh, kegiatan kurir sandi dan lainnnya.
  7. Hall of Fame (Ruang Tokoh) berisi tentang orang-orang yang pernah berjasa terhadap persandian Indonesia
  8. Fasilitas multimedia berteknologi touchscreen.

 

Sumber : Lemsaneg

Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

It's only fair to share...